ITC Fiction: Violin is My Soul
by ~AzumiOctania25"Aku berangkat!"
Alice keluar dari rumah setelah berpamitan dengan ayahnya. Karena kampusnya tak jauh dari rumah, dia cukup berjalan kaki saja. Hari ini dia sangat senang sekali, terlihat dari raut wajahnya yang ceria. Hatinya sungguh bahagia, karena dia sudah mengabulkan sebuah permintaan dari seseorang yang sangat disayangi dan dicintainya. Tidak, bukan untuk kekasihnya. Tapi untuk seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.
"Alice!" tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. Alice menoleh, ternyata itu adalah Helena yang merupakan teman dekatnya. "Eh, selamat pagi! Kau sendirian saja?" sapa Alice pada Helena. Helena mengangguk, "Iya, aku sendirian saja nih. Tadinya mau diantar Brian, tahunya dia sedang sakit!". Alice hanya tertawa kecil mendengarnya. Yang dia tahu Helena dan Brian adalah teman sedari kecil, pantas saja kalau mereka sering bersama-sama. Helena mulai bersuara lagi, "Oh iya, Alice, aku dengar katanya grup orkestra kampus kita menang dalam perlombaan ya?". Alice tersenyum dan mengangguk, "Iya, kami menang. Dan itu membuatku senang."
Royal College of Music(*), kampus dengan pendidikan musik yang terkenal di London, Inggris. Itulah kampus di mana Alice belajar tentang musik. Alice masuk dan belajar di kampus ini karena dia senang dengan musik, lebih tepatnya dia senang bermain biola. Alice mulai belajar biola dari kecil dan sampai saat ini dia masih sering bermain biola. Dari kecil, dia sudah bercita-cita menjadi seorang pemain biola terkenal. Dan itulah yang menjadi motivasi Alice untuk masuk grup orkestra, langkah awal untuk menjadi seorang pemain biola.
Helena ikut tersenyum, "Baguslah kalau begitu. Katanya kau ingin jadi pemain biola kan?". "Iya, itu impianku. Meskipun di perlombaan itu aku hanya sebagai pemimpin kelompok biola, itu sudah lumayan bagiku. Aku harus meningkatkan kemampuanku lebih dalam lagi." ujar Alice penuh tekad. Helena menepuk-nepuk punggung Alice, "Semoga berhasil teman! Aku mendukungmu lho~".
Ya, dalam perlombaan orkestra dia memimpin bagian kelompok pemain biola. Di perlombaan itu, bagian-bagian dari orkestra tersebut disebutkan oleh pembawa acara. Mulai dari dirigen, pemain piano, pemain biola, pemain cello, dan lain-lain. Pembina grup memilihnya karena sang pembina menilai bahwa Alice memiliki bakat terpendam tentang permainan biola.
Sebenarnya, kemampuan bermain biola milik Alice bisa dibilang kemampuan turunan dari ibunya. Ibu Alice adalah seorang pemain biola terkenal. Selain sebagai pemain biola, ibunya juga seorang pencipta lagu. Entah terpesona atau tertarik dengan kemampuan ibunya, Alice jadi mengikuti jejak karir sang ibu. Namun sayang, ketika dia kelas 2 SMA, ibunya meninggal karena kecelakaan saat pulang dari sebuah konser amal.
Sesampainya di kampus, Alice dan Helena bertemu dengan Ivan di halaman depan kampus. Helena seakan tahu apa yang akan terjadi langsung berpisah dengan alasan ingin menemui dosen. Alice yang bingung hanya menggeleng pelan, ada-ada saja. Lalu ditatapnya Ivan yang lebih tinggi darinya. "Ivan, ada apa?" tanya Alice ramah. "Kau jadi kan aku temani ke tempat ibumu?" Ivan malah balik bertanya, Alice mengangguk. Ya, Ivan adalah kekasih pertama Alice. Baginya, Ivan adalah lelaki satu-satunya yang baik namun tegas dalam bertindak. Selera Alice tentang laki-laki memang begitu, dia ingin mempunyai lelaki yang tegas namun baik terhadap sesama. Dan sekarang, laki-laki yang dia idamkan sudah berada di depan matanya.
"Kau benar-benar ingin melakukannya, Alice?" tanya Ivan lagi. Alice hanya tersenyum sambil berjalan pelan, "Aku ingin ibu melihatku bermain biola.".
Ya, Alice ingin bermain biola di hadapan ibunya.
--x--
Setelah jam kuliah Alice selesai, dia langsung menemui Ivan. Mereka akan pergi ke salah satu taman makam di London, di mana ibu dari Alice dikuburkan di sana. Alice melihat Ivan yang sudah berada di dalam mobil, dia langsung berlari menghampiri mobil itu. "Ivan, kau kuliah siang kan?" tanya Alice setelah masuk ke dalam mobil Ivan. "Iya, kira-kira sejam lagi. Tapi aku sengaja datang ke kampus dari pagi." jawab Ivan. Alice hanya menggumam pelan, tanda mengerti. Setelah semuanya beres, mereka pun pergi dari kampus.
Sepi, hanya beberapa orang yang berada di taman makam itu. Alice sudah sampai di taman makam dan sudah tepat berada di depan makam ibunya. Berbekal tas biola dan sebuket bunga, dia datang sendirian tanpa ditemani oleh kekasihnya. Buket bunga yang dibawanya dia taruh didekat nisan sang ibu. Kemudian dia bersimpuh, berdoa untuk arwah ibunya di surga sana.
Setelah berdoa, Alice langsung berdiri dan mengeluarkan biolanya. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung memainkan sebuah lagu yang bernada rendah dan membuat hati terasa tenang. The Most Important Things Lie Behind Your Eyelids(*), judul yang panjang namun lagunya cukup menyentuh hati. Alice memainkan lagu tersebut dengan anggun dan indah. Bahkan beberapa orang yang sedang berziarah di situ pun berdiam diri sejenak untuk mendengarkan suara alunan biola yang sedang dimainkan Alice.
"Ibu, inilah aku yang sekarang. Aku sudah bisa menjadi seorang pemain biola. Meskipun belum seperti ibu, tetapi ini merupakan langkah awalku. Dan aku ingin ibu melihatnya." Alice berkata-kata sambil terus memainkan biolanya. Setelah selesai memainkannya, terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang. Ternyata itu adalah Ivan. Alice tersenyum lalu membungkuk hormat ke depan makam sang ibu, bagaikan sedang pentas di atas panggung.
"Mother, I'll always love and miss you forever.."

















